Unspoken Thoughts

a wife. a mom to be. head over heels in love with her husband.
Posts I Like
Who I Follow

my precious one. Ulrika Zahra Zalfarinsa :)

hellofida:

Halo Mba Meika,

By the time you’re reading this, you’d probably busy with your daughter. Are you still scared? Hopefully you are not as scared as you were. I’m pretty sure you will be a good mother despite your clumsiness. I’m sure what you’re feeling right now is somewhat indescribable, at…

Aku jadian kau kasih surat. Nikah dikasih surat. Sekarang ngelahirin juga dikasih surat. You’re such a huge fan of me! Hahaha. Anyway, terima kasih suratnya mbak Fida. Selalu bikin terharu (eciyee..), dan semoga segera ada orang yang ngajakin mbak Fida bikin surat nikah. Aamiin.

foreveranerd10:

blueklectic:

diaryofakanemem:

Babies moving inside belly's mom

This look like something from a horror movie

Owwwww creepy but cool

si dedek kalo lagi begajulan dalem perut ya begeneeeee :-))

(via f0rever-dreamer)

this is what happens, every night :)

(via cruzsherri)

I’ve grown accustomed to his face.. #husband #instagram

hanifaasrasilmi:

Itu twit dari teman saya malam ini yang ternyata mengundang jawaban beberapa orang, termasuk saya.
Ayah saya baru berhasil membangun rumah untuk kami ketika saya kelas 1 sma. Uda dan nikiki bahkan sudah kuliah tingkat 1. Lama banget yaaaakkkkk hahaha.. Jadi bisa dibilang yang benar-benar…

Aaaaah tulisan-tulisannya mimi nih emang suka bikin ngaca. Sekarang belom punya rumah sendiri. Beda sama mamah papa yg dari sebelum nikah udah beli rumah masing-masing, jadi tinggal milih mau tinggal dimana. Anaknya? Sekarang lagi berusaha keras sambil memohon bantuan sama Allah SWT biar bisa segera KPR rumah, kalo bisa kontan cihuy. Doain yak.

"Home is where your husband is." :) #instagram

Kemarin telponan sama Mbak Fida yang biasalaah kalo ngomong sama dia jadinya random. Ntah apa awal mulanya, sampe ujung-ujungnya ngomongin tentang (again) pernikahan,

Mbak Fida bingung, gimana pada akhirnya dari kehidupan percintaan saya yang malang melintang (tsailahh..) saya bisa ketemu sama si Kakak sekarang. Dari yang dulu nangis-nangis tiap hari sekarang bisa tenang. Bisa ketemu sama si Kakak dan mau diajakin nikah. Iya saya juga bingung. Saya cuma bisa jawab, karena saya mau.

Dan yang herannya, apa nggak ada ketakutan dalam diri saya apa pernikahan yang nantinya saya jalani berjalan sukses atau malah morat marit. Karena memang si Fida bilang, dia pernah denger salah satu kata-kata seseorang bahwa pernikahan itu bukan temporer, tapi permanen. Bukan kayak pacaran, yang kalo kamu nggak seneng, atau bosen, atau muak, bisa ditinggal gitu aja. Dalam pernikahan kamu harus tetap disitu apapun keadaannya. Iya saya juga heran, kenapa saya nggak takut, atau ragu. Pada akhirnya saya sadar, bukan rasa takut yang bikin kamu ragu, tapi itu tergantung siapa yang ngajakin kamu nikah. Mungkin kalo bukan Kakak yang ngajakin nikah saya nggak mau. Mungkin kalo orang lain keadaannya nggak begini. Mungkin..

Mbak Fida kalo seneng sama cowok, dia harus nyambung diajakin ngobrol apapun. Politik, ekonomi, sosial, budaya (apeu..), sampe ngeladenin ngomong random tengah malem. Pertahanin ya mbak Fida. Seperti saya bilang kemarin, cari yang bisa diajakin kompromi.

Karena dalam menjalani pernikahan, yang sulit itu menyelaraskan maunya masing-masing yang pasti berbeda. Kamu pengen ini, si dia pengen itu. Cari yang bisa mikir pake logika, “kamu maunya gini, aku gitu, jadi bagusnya begini..” biar kena semuanya. Kayak saya sama si Kakak, misalnya saya mau pergi, kakak nggak bisa nganterin karena satu dan lain hal. Yaudah, bagusnya gimana biar adil (lahh.. curcol)

Have a good life mbak Fida. Nggak harus ngejalanin seperti yang saya jalanin. Karena belum pernah ketemu yang salah bukan berarti harus nemuin yang salah dulu untuk bisa ketemu orang yang tepat.

a day to remember  #instagram

fathizaki:

Ridhoilah apa-apa yang diberikan Alloh kepadamu, maka kamu adalah orang yang paling kaya..

The past is always tense, the future perfect.
Zadie Smith (via observando)

(via thebigblueskycollapse)

Seseorang yang nanti menjadi yang terakhir bagimu adalah juga yang akan kamu lihat pertama kali setiap hari.

Maka, pilihlah yang benar dan baik untuk hidupmu kelak.

- Tia Setiawati Priatna

(via karenapuisiituindah)

dilihat pertama kali setiap hari setiap pagi :)

(via bintangkuning)

Hari ini tepat seminggu saya berada di Chiba, Jepang.

Selama seminggu, hal yang paling menarik perhatian saya adalah tentang kemandirian yang dimiliki oleh ibu-ibu di sini.

Sebagai pengantar, sangat jarang keluarga yang memiliki asisten rumah tangga, seperti layaknya keluarga di Jakarta, sehingga semua urusan rumah tangga ya dikerjakan oleh si ibu. Dari mulai beres-beres rumah, belanja kebutuhan rumah tangga, mengurus kebutuhan anak seharian termasuk mengantar jemput si anak ke sekolah. Yang lebih serunya lagi, di sini sangat sulit mendapatkan surat izin mengemudi, ditambah mahalnya harga mobil dan harga parkir, sehingga ibu-ibu di sini lebih memilih sepeda sebagai kendaraan sehari-hari.

Sepeda yang umum dipakai oleh ibu-ibu disebut mamachari. Sepeda ini umumnya harganya sedikit lebih mahal dari sepeda biasa karena konstruksinya memang dibuat untuk mampu membawa 2 anak, di boncengan belakang dan boncengan depan.

Jadi pemandangan seperti ini sudah biasa saya temui di jalan-jalan di Chiba.

FYI, tidak semua jalan raya di Chiba ini mendatar atau menurun, banyak juga tanjakan yang lumayan banget lho, kalo harus sambil gowes bawa 2 anak

Ibu dengan 2 anak, biasanya yang besar sudah bisa jalan (walaupun masih balita) dan yang kecil digendong dengan ergo, bisa santai belanja kebutuhan rumah tangga di supermarket. Tidak ada baby sitter dan tidak ada supir untuk membantu memasukkan belanjaan ke mobil.

Selesai belanja, mereka masih harus membungkus dan mengemas belanjaan mereka sendiri, tidak dibantu oleh mas-mas kasir seperti yang kita jumpai di super market di Jakarta Keluar dari supermarket, anak-anak didudukkan ke kursinya, pasangi helm, masukkan plastik belanjaan ke stang sepeda, dan lalu gowes ke rumah.

Jarang sekali saya temui ibu-ibu di sini cemberut dan memarahi anaknya di supermarket, seperti yang sering saya lakukan dulu mereka sungguh santai menjalani perannya sebagai ibu. Tidak ada beban.

Suatu sore saya berkesempatan untuk mengobrol dengan kumpulan ibu-ibu di taman belakang asrama saya, mereka bilang begini:

Di sini tidak semua perempuan dikasih kesempatan jadi ibu, maka kita-kita ini yang sudah diberi anugerah harusnya memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Toh anak-anak kita tidak akan kecil selamanya, embrace the moment. Nanti kalau mereka sudah besar, kita akan sangat rindu dengan tangisan dan teriakan mereka

Ouchhh, tertampar deh dengar perkataannya…

Saya, waktu tinggal di Indonesia termasuk ibu-ibu dengan tingkat kesabaran sangat rendah. Bawaannya spanneng kalo pergi dengan 2 anak ga ajak rombongan ART Tapi di sini, saya disadarkan bahwa menjadi ibu itu sungguh suatu anugerah. Jadi seharusnya saya bersyukur masih bisa punya anak 2 meskipun 2-2nya termasuk yang susah diam Apalagi sekarang saya terpaksa berpisah sementara dengan kedua anak saya.

Jadi untuk ibu-ibu di Jakarta sana, yang masih bisa memandangi buah hatinya saat terlelap, yang masih bisa menyusui anaknya setiap saat, yang masih bisa melihat keaktifan anaknya yang ga mau diam, syukuri itu…

Mereka ga selamanya jadi anak kecil. Dan terutama karena tidak semua perempuan berkesempatan mengalami itu semua. Embrace the moment….

Ada kalimat terakhir yang bikin saya super haru:

bersyukur dengan tulus….
dan ikhlas itu akan datang dengan sendirinya….

Semoga bermanfaat …

Repost from: mommiesdaily dengan sedikit diedit.

(via peepstraw)

Jika org tua tidak mendidik anak-anaknya, maka zaman lah yang akan mendidik mereka.
Ibnu Khaldun (via asaindonesia)

(via fathizaki)